10 Sahabat Chapter 18


            Kali ini Chintia dan kawan-kawan bukan delapan sekawan lagi . Jumlah mereka telah Sembilan , kurang satu pastinya . Marta masih berada di Australia , dia akan pulang dua hari lagi , itu artinya sebentar lagi jumlah mereka akan pas sepuluh . Pagi jam 6.30 a.m Ellis , Prida dan Vhira telah pergi bersama menggunakan  sepeda .
            “Kau tahu ? Aku sangat bahagia ketika kepulangan Reny .” ucap Ellis sambil mengayuh sepedanya
            “Ya , aku pun begitu .. Kita tidak akan berdelapan lagi.” Jawab Vira
            “Namun kita belum lengkap karena Marta belum kembali ke London..” lanjut Prida
            “Kau benar.. Umm, bukankah Marta akan pulang sebentar lagi ? Tidak perlu khawatir, kita akan seperti semula :D” jawab Ellis sambil tersenyum
            “Yeah, I think so .” lanjut Vira
            “Mm.” angguk Prida
            “Sist Prida, bagaimana hubunganmu dengan Logan ?” Tanya           Ellis
            “Sejauh ini baik-baik saja, tidak ada masalah. Ada apa sist?” Tanya Prida
            “Tidak, tidak apa-apa. Ku harap dia tidak menyakitimu.” kata Ellis
            “Semoga tidak :)” jawab Prida
            15 menit kemudian, Ellis, Prida dan Vira sampai didepan gerbang sekolah mereka. Saat ingin memarkir sepeda mereka, Tom terlihat datang menghampiri 3 sahabat itu.
            “Tidakkah kau lihat dia berjalan keaarah kita ?” Tanya Ellis
            “Kau benar .” jawab Prida
            “Apa yang ingin ia lakukan?” Tanya Vira
            “Aku tidak tahu.” Jawab Ellis
            “Dia datang!!” ucap Prida
            “Hi ! Ini untukmu.” Sapa Tom sambil memberi sebuah bungkusan kepada Ellis
            “Untukku ? Kau tidak bercanda bukan ?” Tanya Ellis
            “Terima saja .” bisik Prida dan Vira
            “Yup, of course :)” jawab Tom
            “Kau tidak sedang sakit ? Atau aku yang sedang bermimpi?” Tanya Ellis memastikan
            “Tidak, aku tidak sakit, dan kau sedang tidak bermimpi. Baiklah, aku harus segera pergi. Oh iya, sebaiknya kau dirumah saja, ok. Bye.” Ucap Tom lalu meninggalkan Ellis, Prida dan Vira.
            “Menurutku dia menyukaimu .” kata Prida merayu
            “Apa? Itu tentu tidak mungkin.”jawab Ellis
            “Mungkin saja jika ia memberimu hadiah kedua esok hari.” Lanjut Vira sambil tertawa
            “Sudahlah, yuk kita masuk.” Ajak Ellis
            “Jangan mengalihkan pembicaraan kita sist, haha.” Jawab Vira
            “Whatever you want.” Jawab Ellis
            “Hahahahahaha.” Prida dan Vira tertawa terbahak-bahak
            Saat dikoridor sekolah, 3 sahabat itu bertemu Logan yang sedang bersama Justin, perjalanan Logan terhenti saat menatap Prida.
            “Tunggu!” teriak Logan terhadap Prida
            “Apa yang ingin kau lakukan?” Tanya Justin
            “Kau tunggu disini sebentar saja, ada yang ingin ku bicarakan kepadanya .” jawab Logan
            “Ada apa?” Tanya Prida
            “Pulang sekolah ini jika kau tidak ada waktu maukah kau makan siang bersamaku?” Tanya Logan
            “Sepertinya aku akan pergi bersama sahabat-sahabatku . Kau ingat bukan Reny baru saja pulang dari Amerika? Aku pasti tidak bisa.” Jawab Prida
            “Hmmm. Bagaimana jika malam besok kita pergi dinner?” Tanya Logan
            “Ok, aku pasti bisa.” Jawab Prida
            “Baiklah.. bye.” Ucap Logan dan pergi menghampiri Justin
            “Lama sekali (¬_¬”)” Kata Justin
            “Sorry bro.” jawab Logan
**
            Saat jam istirahat Chintia dan kawan-kawan pergi kekantin. Seperti biasa, orang-orang mundur perlahan saat mereka duduk dimeja mereka.
            “Sama sekali tidak ada perubahan.” Ucap Reny sambil menggelengkan kepalanya
            “Begitulah. Aku cukup membenci hal ini.” Lanjut Chintia
            “Aku merasa seperti terintimidasi oleh murid-murid disini.” Kata Prida
            “Bukan hanya itu saja, kita juga seperti virus yang harus dijauhi oleh orang-orang disini.” Lanjut Regi
            “Apakah kau memiliki rencana untuk ini?” Tanya Vira kepada Reny
            “Aku tidak tahu.. yang biasa melakukan ini Marta, bukan?” jawab Reny
            “Kau benar. Tetapi Marta masih 2 hari lagi. Dan kita akan seperti ini 2 hari lagi.” Lanjut Vira
            “Ataukah kita perlu berpenampilan seperti orang miskin barulah mereka tidak seperti ini?” kata Cynthia sambil memalingkan wajahnya
            “Haha, itu ide bagus sist . Lalu kita menggunakan baju yang bolong dan sepatu yang dipenuhi oleh lumpur.” Jawab Rara
            Semuapun tertawa, terkecuali dengan Ellis.. Ellis masih memikirkan hal yang terjadi padanya tadi pagi. Ia bingung mengapa perilaku Tom aneh kepadanya.
            “Hello ! Kau tak apa ?” panggil Vira kepada sahabatnya tersebut
            Ellis masih saja melayang dalam lamunannya.. Kawan-kawan Ellis bingung, tidak biasanya perilakunya seperti itu. Terkecuali Prida dan Vira. Mereka sudah bisa menangkap sesuatu pada diri Ellis.
            “Sista !” Chitntia menepuk pundak Ellis
            “Ouh, ha.. ya.. ad..ada apa??? Ma..maaf ..” jawab Ellis terbata-bata
            “Apa yang terjadi padamu?” Tanya Ratih
            “Ak..aku?? Aku tidak apa-apa.” Jawab Ellis
            “Namun kau terlihat berbeda hari ini. Kau ada masalah?” Tanya Ratih
            “Masalah? Tentu tidak. I’m okay.” Jawab Ellis
            “Syukurlah” lanjut Ratih
            “Sepulang sekolah ini apakah kalian memiliki rencana?” Tanya Reny
            “Tentu saja.” Jawab Cynthia
            “Kemana?” Tanya Reny
            “Entahlah, mungkin kita ke café seperti biasa.” Jawab Chintia
            “Ok.” Lanjut Reny
**
            Sepulang sekolah, Chintia dan kawan-kawannya pergi ke café langganan mereka. Mereka memesan seperti biasa, begitu pula dengan Reny yang pesanannya sama seperti teman-temannya. Di café, mereka bercerita banyak sekali. Kebahagiaan terpancar dari wajah mereka. Tawa yang dulu mereka rindukan, kini telah terbayarkan, terkecuali ketidakhadiran Marta. Ratih, Rara dan Regi tidak merasa canggung setelah bertemu Reny yang baru saja mereka temui, karena selama Reny di Amerika, mereka sering berbincang-bincang. Ellis yang sedari sekolah tadi termenung, kini tidak lagi.
            Setelah hang-out di café, mereka pergi jalan-jalan ke Harrods untuk membeli pernak-pernik mereka. Mereka terlihat berlomba-lomba membeli aksesoris cantik. Sampai pada akhirnya ponsel Chintia mendapat pesan… saat Chintia membuka ponselnya, ternyata pengirim pesan itu tidak bernama alias nomor yang tidak disimpan oleh Chintia..
            Hi !
             Siapa kau?
            Aku Freddie
            Oh, ada apa?
            Tidak, tidak apa-apa.
            Dari mana kau dapatkan nomor ponselku?
            Apakah itu penting? Aku tidak harus menjawab pertanyaanmu itu.
            Terserahmu.
            Maukah kau pergi bersamaku malam ini?
            Kemana?
            Ke suatu tempat dimana kau akan merasa bahagia..
            Kau jangan mempermainkanku. Tidak mungkin kau yang sebelumnya tidak baik padaku lalu tiba-tiba kau ramah seperti angel.
            Percayalah padaku, aku akan membuatmu bahagia.
            Lihat nanti malam, jika aku bisa, aku akan mengirim pesan padamu
            Ok
            Setelah selesai membalas semua pesan dari Fredd, Chintiadikagetkan oleh Prida
            “Dorr!!” teriak Prida ditelinga sahabatnya itu
            “Astaga ! >.< Kau mengagetkanku!” ucap Chintia sambil mengelus dadanya
            “Kau terlalu serius oleh ponselmu sehingga tidak mengomentari pendapat kami tentang barang-barang yang kami tanyakan padamu. Kau sedang apa?” tanya Prida
            “Aku hanya browsing internet untuk mencari list lagu-lagu terbaru.” Jawab Chintia
            “Kau yakin (¬_¬”)” Tanya Prida meragu
            “I’m sure ( ̆ ͜  ̆ )” jawab Chintia
            “Kau terlihat bahagia sekali, apa yang terjadi?” Tanya Prida
            “Setiap hari aku selalu bahagia, bukan?” jawab Chintia
            “Baiklah” lanjut Prida
            Setelah mereka membeli semua kebutuhan mereka, merekapun pulang kerumah masing-masing. Ellis, Prida dan Vhira pergi bertiga, Chintia, Cynthia dan Reny pergi bertiga, dan Ratih, Rara dan Regi pergi bertiga. Mereka menuju kearah yang berbeda…
**
            Jam menunjukkan pukul 7.00 a.m , ponsel Chintia berbunyi nada pesan masuk. Saat melihat nama kontak pada pesan tersebut, disana tertera nama “Freddie”
            Bagaimana? Apakah kau bisa pergi bersamaku malam ini?
            Yeah, I can. Where we will go?
            Some place you’ll feel glad and very glad :)
            Up to you. Kau menjemputku?
            Dimana rumahmu? Aku akan menjemputmu 15 menit lagi
            Abbey Road E 12th street
            Baiklah, segeralah bersiap-siap
            Ok
15 menit kemudian
            “Kau sudah siap?”
            “Tentu saja, apakah pakaian yang ku kenakan tidak menunjukkan bahwa aku sudah siap?”
            “Tidak, hanya saja.. kau terlihat sangat.. sangat cantik”
            “Sudahlah, jangan mengatakan hal yang membuatku muntah”
            “Tetapi aku berkata jujur, kau tidak mempercayaiku?”
            “Jangan basa-basi, sebaiknya kau cepat membawaku ketempat yang kau sebut itu”
            “Ok ok. Ayo masuk ke mobilku”
            “Kau tidak berniat untuk menculikku bukan?”
            “Haha, itu tidak mungkin. Aku akan membuatmu bahagia malam ini”
            “Jangan buatku kecewa”
            “Tenang, itu tidak mungkin terjadi”
*
            “Gunakan ini untuk menutup matamu” ucap Fredd sambil memberikan sehelai kain
            “Untuk apa? Kau ingin membawaku kemana? Kau ingin meninggalkanku?
            “Tidak.. percayalah padaku :)”
            “Baiklah”
            Chintia pun menutup matanya menggunakan kain yang diberikan oleh Fredd. Fredd segera membukakan pintu mobilnya untuk membantu Chintia keluar. Sambil meraih tangan Chintia, Fredd tersenyum karena melihat Chintia yang begitu panik. Dengan hati-hati, ia membawa Chintia ketempat yang ia sebutkan. Tidak lama kemudian ia sampai ditempat yang sepi, namun terdapat banyak lampion-lampion kecil berbentuk hati yang bergantungan dipohon. Bunga-bunga anggrek yang tertata sangat rapi yang ditaruh direrumputan. Fredd mengeluarkan sepaket bunga mawar berwarna merah dan putih. Terlihat sangat banyak mawar yang berwarna merah, namun hanya ada satu mawar putih.
            “Kau tahu, aku memiliki banyak mawar merah, dan satu mawar putih. Apakah kau tahu arti dari bunga-bunga ini?” Tanya Fredd
            “Aku tak mengerti apa yang kau katakan. Apa maumu?”
            “Mawar merah ini menggambarkan begitu banyaknya gadis-gadis cantik didunia ini, yang tampak sangat anggun dan glamour dengan penampilannya. Sedangkan mawar putih ini.. ini adalah dirimu, yang tampak sederhana dan sangat berbeda dari gadis lainnya. Yang tampil apa adanya dengan dirimu yang sebenarnya. Aku tidak pernah memandang kecantikanmu, aku tak pernah melihat senyummu. Selama ini aku hanya memandang wajah sinismu kepadaku. Namun aku sering melihat tawamu yang begitu berarti dalam hidupku.  Tawamu memberikan kehangatan jiwaku..” Lalu dibuangnya mawar-mawar merah itu terkecuali mawar putih “Je t’aime mon amour, Chintia..”
            Chintia hanya berdiri mematung didepan Fredd. Perasaan tidak percaya akan semua yang terjadi padanya malam ini.
            “Would you be my girlfriend?”
            “Kau pasti bercanda”
            “No ! I’m serious”
            “Tetapi bagaimana bisa? Selama ini kau tidak pernah memperlihatkan dirimu bahwa kau.. kau memiliki perasaan kepadaku. Kau yang setiap hari mengocehiku dengan kata-kata bodohmu itu. Dan sekarang.. kau tiba-tiba mengatakan hal yang sangat tidak masuk akal.”
            “Kau tidak mempercayaiku? Kau harus yakin kepadaku. Aku selama ini hanya ingin menjauh dari perasaanku ini, namun aku tidak bisa. Aku tidak dapat pergi dari hatiku yang selalu mencintaimu. Setiap hari kau selalu ada dalam baying-bayangku, kau selalu menghantui perasaanku. Dan kini aku ingin mengatakan semuanya, aku ingin menyatakan semua perasaanku kepadamu, aku ingin kau selalu disampingku, aku ingin kau tersenyum kepadaku, aku ingin kau ada untukku!”
_______________________

Comments

Popular posts from this blog

FF Narnia - Menunggu Cinta

Hidup dan Mimpi #2