Hidup dan Mimpi #1


Cast :
-       Ainsley Chamberlain Davies a.k.a Ansle : Prida(Author
-       Henry Chamberlain Davies : Kakak Laki-laki Ainsley
-       Josh Philip Davies : Ayah Ainsley dan Henry
-       Marry Ephraim Chamberlain : Ibu Ainsley dan Henry
-       Zayn Javadd Mallik : Suami masa depan Ainsley
-       Ankhises Davies Malik : Calon Anak laki-laki Ainsley dan Zayn
-       Eileithiia Chamberlain Malik : Calon Anak perempuan Ainsley dan Zayn
-       Figuran
         
   Yay,inilah liburanku. Liburan kenaikan kelas setiap tahunnya ku alami. Ayah dan ibuku tidak memiliki planning untuk liburanku. Namun kakak laki-laki ku bernama Henry memiliki ide yang tidak ku setujui. Ia sangat mengidam-idamkan Lake District. Aku tidak tahu tentang tempat itu, Henry mengatakan, bahwa disana sangat nyaman, kesejukan pegunungan yang alami membuat penikmatnya merasakan terbawa dalam mimpi. Awalnya, aku tidak setuju, namun ku dengar dari Henry tidak terlalu buruk. Aku menyetujui idenya, begitu juga dengan orang tua kami. Henry memang pintar dalam soal tempat wisata, namun aku tidak tahu bagaimana Lake Ditrict.
            Hari ini adalah hari minggu, tepat sekali untuk berkemas barang karena jam 9:30 a.m nanti kami akan pergi ke Lake District. Mungkin untuk beberapa hari kami bermalam disana. Ayah telah mempersiapkan minibus VW klasiknya dan memasukkan barang-barang kami ke dalamnya.
            “Jangan lupa membawa sepeda kita, kak” ucapku kepada Henry
            “Tidak mungkin” jawabnya sambil tertawa lebar
            Aku iri terhadap kakakku sendiri, ia terlahir dengan gigi-gigi yang sangat rapi. Setiap kali ia tertawa memperlihatkan giginya, aku selalu di kucilkan olehnya. Tetapi tidak masalah, gigi yang ku miliki lumayan bagus dari pada miliknya. Aku dan kakakku Henry memiliki banyak kesamaan, mata kami yang sama-sama berwarna biru dan sifat kami yang 95%nya sama. Yah, itulah kami, kakak beradik yang sangat akur. Banyak orang yang mengira kami sering bertengkar, nyatanya tanggapan itu salah. Henry adalah kakak terbaik yang pernah ku miliki. Aku  sering menceritakan pengalamanku kepadanya. Umur Henry yang kini 22 tahun berbeda 5 tahun denganku, ia selalu menjagaku dan memberi nasihat yang baik kepadaku. Ayah dan ibu terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan mereka, sehingga membuatku sering membutuhkan mereka disisiku. Liburan tiba yang sangat ku tunggu-tunggu karena menginginkan kebersamaan keluarga.
            “Ansle, kau sudah siap?” Tanya ibu
            “Sudah bu. Apakah kita pergi sekarang?” tanyaku kepada ibu
            “Tentu saja, cepatlah!” jawab ibu
###
            Dalam perjalanan, aku dan keluargaku mengobrol banyak sangat banyak. Karena terlalu banyak berbicara, membuatku mengantuk. Akupun mengambil ponselku dan meronggoh tasku mencari earphone. Setelah mendapatkannya, aku mencari playlist tidur diponselku. Aku memang sudah mempersiapkan lagu-lagu untuk tidurku. The A Team - Ed Sheeran adalah lagu terbaik yang ku dengar, sangat baik untuk membawaku ke alam bawah sadarku..
###
            “Ainsley.. bangun!!” panggil Henry sambil menepuk pundakku
            “Huuaahhhh, apakah kita sudah sampai?” tanyaku sambil mengusap-usap mataku
            “Yup, kita sudah sampai. Cepatlah keluar dan lihat pemandangan yang belum pernah kau lihat!”
            Aku segera keluar dari mobil dan.. benar! Memang benar! Lake District sangatlah indah. Mataku tidak dapat berkedip dan tidak lelah memandang sekeliling tempat ini.
            “Mengapa kalian tidak pernah mengajakku kesini?” tanyaku kepada ayah, ibu dan kakakku
            “Bukankah kau pernah mengatakan tidak ingin pergi ke daerah pegunungan? Kau sendiri yang mengatakan bahwa daerah pegunungan adalah kawasan yang sangat tidak nyaman untuk berlibur.” Jawab Henry
            “Tetapi ini beda” sahutku lagi
            “Semua tempat itu sangat indah, tergantung bagaimana kita menyesuaikan diri kita ditempat itu, sayang” jawab ibu
            “Ya ya ya, baiklah” singkatku
            “Ok semua, sepertinya kita harus mencari tempat penginapan. Tulang-tulang ayah sangat sakit setelah menyetir mobil” ucap ayah
            Akhirnya kami tiba di desa Hawkshead, ayah tidak ingin berada di Kendal, Cockermouth, Penrith atau Grange-Over-Sands karena disana tempatnya cukup ramai. Kata ayah, ia ingin tempat yang hanya ada pegunungan, desa dan pekarangan penggembala domba. Ayah memang hebat dalam hal mencari tempat yang indah, pemikirannya sama seperti Henry.
            Akhirnya kami mendapat penginapan, rumah yang berukuran sederhana dan tidak terlalu besar, namun cukup untuk kami berempat. Sesampai didalam rumah, ayah segera pergi ke kamar utama dan tidur. Di rumah ini memiliki 3 kamar tidur, 1 toilet, dapur berukuran kecil dan ruang tamu yang menyambung dengan ruang tv. Sangat cocok untuk keluarga kecil seperti kami. Aku dan Henry mendapat kamar yang pas untuk kami. Kamarku yang berada didepan pintu kamar ayah dan ibu, sedangkan Henry berada di seberang kamar aku dan orang tuaku. Kamarku tidaklah besar, jendela yang menghadap ke utara, terlihat gunung-gunung tinggi dan danau yang cukup besar dihiasi dengan tanaman-tanaman yang berwarna hijau. Banyak angsa putih yang sangat bersih bermain di danau itu. Sangat indah.
            Aku mencoba menengok ke kamar ayah dan ibu. Dari jendela mereka yang terlihat hanyalah rumah penduduk dan gunung-gunung. Tetapi rumah disini memiliki bentuk yang unik, berbeda dengan di London. Setelah melihat kamar ayah dan ibu, akupun menghampiri Henry. Luar biasa! Kamarnya menghadap Cumbrian Mountains. Pegunungan yang paling indah di Lake District ini.
            “Kakak, maukah kau bertukar kamar denganku? Aku ingin disini” kataku sambil memelas kepadanya
            “Tidak, aku tidak mau. Kau sendiri bukan yang memilih kamarmu?” jawab Henry
            “Tidakkah kau kasihan denganku, kak?”
            “Aku tidak mau. Kamarku sangat strategis untuk menghadap Cumbrian Mountains, dan kau memilih kamar yang menghadap pegunungan dan danau.”
            “Yasudahlah, tidak masalah” jawabku dengan sedikit kecewa
            “Jangan kecewa seperti itu. Nanti sore akan ku ajak kau ke Bassenthwaite Lake”
            “Tempat apa itu?”
            “Banyak orang mengatakan bahwa tempat itu adalah tempat yang sangat romantis di Lake District ini”
            “Benarkah? Mengapa tidak sekarang saja?”
            “Sekarang masih siang dan jam untuk istirahat, ku sarankan kau tidur terlebih dahulu”
            “Baiklah. Tetapi bangunkan aku ketika kau pergi kesana”
            “Percaya saja kepadaku”
            Aku sangat bahagia memiliki kakak seperti Henry, dan jika aku sudah dewasa nanti, aku ingin dia selalu berada di sampingku walaupun ia sudah berkeluarga kelak. Waktu telah menunjukkan pukul 2:15 p.m dan sebaiknya aku pergi tidur.
###
            “Apa ini? Basah sekali!” erangku yang masih didalam ambang kesadaran
            “Kau jadi ikut tidak? Aku sudah membangunkanmu berkali-kali, kau tetap saja tidur dan ku pikir sebaiknya aku memercikkan air kewajahmu” jawab Henry yang masih samar-samar wajahnya dimataku
            “Ikut!!! Maklum saja, kau kan tahu kalau aku sangatlah susah untuk bangun dari tidurku”
            “Cepat pergi mandi dan kita pergi”
            “Iya”
            Aku yang masih setengah sadar, terus berjalan ke toilet. Dan akhirnya ‘gdebuk’ aku terjeduk dinding toilet. Astaga, bodohnya diriku. Akhirnya aku sadar 100% setelah terjeduk itu. Saat mandi seperti kebiasaanku, aku menyanyi-nyanyi, Good Life – One Republic adalah lagu yang tepat untuk sekarang.
            “Ansle!! Cepatlah!!” teriak Henry dari luar
            “Iya! Sebentar lagi!! Tunggulah sejenak”
            Dan salah satu dari sifat Henry adalah tidak suka menunggu. Akupun segera keluar dari toilet.
            “Cepat ganti bajumu yang sedikit tebal, karena cuaca disini cukup dingin”
            “Iya”
            Aku mengganti baju yang sedikit tebal seperti yang diminta Henry.
            “Sudah siap?”
            “Ya. Ayah dan ibu tidak ikut?”
            “Mereka pergi berkenalan dengan warga sekitar”
            “Oh begitu. Baiklah, ayo kita pergi!!”
            Aku dan Henry menggunakan sepeda gunung menuju Bassenthwaite Lake. Kami menggunakan sepeda sendiri-sendiri. Aku tidak ingin berboncengan dengannya, karena ia terlalu horror untuk mengendarai sepeda.
            “Jangan terlalu fokus dengan jalan, nikmati juga pemandangan sekitarnya” kata Henry sambil menunjuk alam sekitar
            “Baru kali ini aku merasakan udara pegunungan. Dan aku berpikir kita tidak sedang berada di Inggris”
            “Pemandangan yang indah membuat banyak orang terhipnotis. Pertama kali aku pergi berkemah disini, aku bahkan berpikir sepertimu. Tidak pernah terlintas di otakku jika ada tempat seindah ini di Inggris. Yang ku tau hanyalah London dan kota metropolitannya.”
            “Benar yang kau katakan. Tetapi sepertinya kita juga belum menjelajahi London, bisa saja ada tempat indah yang tersembunyi disana.”
            “Mungkin saja. Nah, kita sampai”
            “Inikah tempatnya???”
            “Ya”
            “Woww!!”
            Tidak dapat ku pungkiri lagi. Tempat ini sangatlah indah. Memang tidak salah orang menyebutnya ‘Most Romantic Street’. Bassenthwaite Lake The A591, Grasmere, Lake District membuatku benar-benar terhipnotis. Aku dan Henry jalan mengelilingi tempat ini. Terlihat turis-turis dari lokal dan interlokal. Terpancar dari ekspresi wajah mereka yang begitu bahagia.
            “Kau tahu Ansle, suatu saat aku akan mengajak pasanganku kesini dan melamarnya disini. Saat dia menerimaku, aku akan menjadi lelaki yang paling bahagia didunia ini. Dan aku memberinya cincin yang sangat diinginkannya. Aku berharap dia adalah wanita idamanku selama ini”
            “Aku akan mendukungmu kak”
            “Terima kasih.”
            “Hm”
            “Umurmu sudah 16 tahun, kau tidak pernah menceritakan kepadaku tentang teman dekatmu lebih tepatnya adalah pacarmu”
            “Aku memang tidak pernah bercerita tentang kaum adam kak. Dan aku memang belum pernah berpikir untuk berpacaran.”
            “Kenapa?”
            “Karena aku berpikir itu semua percuma dan bersifat sementara. Jika hubungan itu berakhir, tangisan yang akan terjadi. Aku tidak ingin berlelah-lelah melakukan hal yang menurutku sangat tidak berguna untuk ku lakukan”
            “Sejak kapan kau memiliki pemikiran sedewasa ini?”
            “Ada-ada saja kau kak. Itu memang sudah adanya dipikiranku”
            “Ternyata adikku ini sudah mengerti. Aku bangga terhadapmu”
            “Aku juga bangga punya kakak seperti kau”
            “Haha, apa yang kau banggakan dariku?”
            “Kau adalah kakak yang sangat baik. Kau juga selalu menenangkanku ketika aku marah kepadamu”
            “Itu adalah tugas seorang kakak bukan?”
            “Ya ya. Jadi apa yang ingin kita lakukan sekarang?”
            “Hari sudah mulai sore, sebaiknya kita pulang saja. Lagi pula sebentar lagi Maghrib, kita harus cepat”
            “Okok.. Um, bagaimana jika kita balapan?”
            “Boleh saja. Jika kalah, apa hukumannya?”
            “Membuat apple pie saja!”
            “Kau yakin?”
            “Yup”
            “Bagaimana jika kau yang kalah?”
            “Tidak mungkin, haha”
            Aku pergi terlebih dahulu dari Henry. Memang terdengar licik, tetapi demi kemenangan, kenapa tidak?
            “Jangan tertawa terlebih dahulu Ansle” ucap Henry mendahuluiku
            Sialnya aku selalu kalah dengannya. Entah memiliki ilmu apa. Tetapi inilah kami. Kami mengayuh sepeda sekencang-kencangnya dan hampir mendekati rumah, ternyata Henry menurunkan kecepatannya hingga aku yang menang. Ada apa? Tidak biasanya ia seperti ini.
            “Mengapa kau menurunkan kecepatanmu?” tanyaku
            “Berhubung aku sering menang, jadi aku memberikanmu kesempatan”
            “Jadi menurutmu aku sering kalah?”
            “Tidak tidak, lagi pula menang atau kalah bukan akhir dari segalanya, bukan?”
            “Iya. Lalu kau akan membuat apple pie?”
            “Tentu saja. Kau belum pernah mencoba apple pie buatanku, dan kau harus mencobanya”
            “Sepertinya kau yakin sekali”
            “Itu harus. Sudah mulai azan, ayo masuk”
            Kami menaruh sepeda kami di samping rumah dan masuk kerumah. Terlihat ayah dan ibu sudah siap dengan peralatan Shalat mereka.
            “Ayah, apakah ayah sudah tahu dimana arah kiblatnya?” Tanya ibu
            “Yup, tadi ayah sudah bertanya kepada penduduk yang beragama muslim” jawab ayah
            “Ku kira hanya kita saja yang muslim disini” ucap Henry
            “Tentu tidak, warga disini 25% muslim. Ayah bersyukur walaupun hanya sedikit, tetapi dari 25% itu siapa tahu mereka yang belum kembali ke Islam, mereka mendapat hidayah dari Allah” jawab ayah dengan gembira
            “Amin” lanjut aku, ibu dan Henry
            Jujur saja, aku tampak kaget 25% penduduk disini muslim, karena jarang sekali. Biasanya hanya 8% atau kurang.
            “Henry, Ansle.. sudahkah kalian mengambil air wudhu?” Tanya ayah
            “Aku sudah” jawab Henry
            “Bagus. Cepat ambil air wudhu Ansle, kita Shalat berjamaah”
            “Iya ayah”
            Kami semua Shalat dengan khusyuk. Aku sangat senang ketika mendengar ayah mengucapkan bacaan dan surah-surah pada saat Shalat. Betapa fasihnya ia membacanya dan sangat membuatku nyaman. Dulunya ayahku adalah seseorang yang beragama Nasrani. Setelah menikah dengan ibu, ayah kembali ke Islam dan menjadi imam yang baik untuk kami. Selesai Shalat, kami membaca doa masing-masing lalu bersalaman kepada ayah, ibu dan Henry.
            “Kak, kau tidak lupa janjimu, bukan?” panggilku memasuki kamarnya
            “Tidak, kau tenang saja”
            “Baguslah”
            “Janji apa Ans?” Tanya ibu
            “Kakak ingin membuatkan kita apple pie, bu. Katanya, apple pie buatannya sangat enak” jawabku
            “Benarkah? Ibu tidak pernah mencoba apple pie buatan Henry.”
            “Ayah sudah pernah. Dan ayah tidak dapat berbohong, apple pie-nya memang enak sekali” sahut ayah dari dalam kamar
            “Kapan ayah mencobanya?” tanyaku
            “Kurang lebih seminggu yang lalu saat ibu sedang pergi ke Wales dan kau pergi ke acara sekolah. Karena kami kelaparan, Henry berencana membuat apple pie” jawab ayah
            “Mengapa kalian tidak menyisakannya untuk kami?” Tanya ibu
            “Karena aku membuatnya hanya sedikit, haha” jawab Henry
            “Anak pintar kau nak” kata ibu sambil tertawa
            “Sebaiknya kalian menonton tv saja. Tunggulah sekitar 1 jam lagi” ucap Henry berlagak seperti chef hebat
            “Siap chef” jawab kami semua
60 menit kemudian
            “Ayah, ibu, Ansle!! Makanan sudah siap!” panggil Henry
            “Ok”
            Aku, ayah dan ibu keluar dari kamar kami. Dan apple pie sudah siap di ruang tv. Aroma yang sedap membuat hidungku tak henti-hentinya menciumi aroma apple pie. Sangat menguji lidah.
            “Tunggu apa lagi?” tanyaku
            “Baca doa terlebih dahulu, sayang” ucap ayah
            Setelah membaca doa, kami memakan makanan buatan Henry. Jujur saja, apple pie-nya sangat enak sekali. Restoran manapun tidak dapat menandingi buatan Henry.
            “Kau belajar dimana kak?” tanyaku
            “Aku tidak belajar. Hanya saja saat aku browsing internet, aku menemukan resep apple pie. Karena aku sangat menyukainya, aku tulis saja resep itu. Dan inilah jadinya, haha”
            “Good job, nak” komentar ibu
            Kami semua menikmati apple pie hingga habis. Betapa lezat rasanya.
            “Um, ayah, setelah ini, kita pergi kemana?”
            “Mungkin kita pergi ke tepat tidur. Besok kita akan menghabiskan waktu kita untuk menikmati liburan kita disini. Oh ya, jangan lupa Shalat Isya” jawab ayah lalu pergi ke kamarnya
            “Baiklah yah. Mungkin aku tidur tidak sekarang.” Ucapku
            “Kau mau kemana?” Tanya Henry
            “Hanya ingin menikmati udara malam saja”
            “Mau ku temani?”
            “Tidak, sepertinya kau lelah. Aku tidak ingin mengganggumu”
            “Tentu tidak mengganggu. Berhubungung kita disini, aku tidak keberatan. Aku juga ingin menikmati suasana malam di Lake District”
            “Jika itu maumu, tidak masalah. Tetapi aku mengambil sweaterku dulu”
            “Hm”
            Aku dan Henry pergi berdua di kesejukkan malam Lake District. Sangat nyaman dan benar-benar nyata. Kami menjalani jalan bebatuan yang unik dan menarik yang sebelumnya belum pernah ku temui. Henry mengajakku minum teh hangat di suatu tempat yang berada tidak jauh dari tempat penginapan kami. Warung kecil yang terbuat dari bambu dan lampu lampion berwarna-warni menghiasi tempat ini. Tidak banyak orang mampir disini, entah tidak enak atau tidak ada yang tahu.
            “Jangan melihat dari sudut luarnya saja. Memang terihat biasa, namun tehnya sangat enak” kata Henry kepadaku
            “Aku tidak mengatakan tempat ini jelek. Desainnya sangat unik, aku suka tempat ini”
            “Kau akan kaget dengan rasa tehnya. Memang biasa, tapi rasanya berbeda. Tidak seperti teh-teh yang ada di London”
            “Apa yang membuatnya berbeda?”
            “Karena kita sering meminum teh yang sudah didalam kemasan, maka akan berbeda dengan yang ini. Pembuat teh disini membuatnya sendiri dan meracik sendiri, kebun teh dibelakang rumahnya cukup besar. Gula yang dibuatnya juga bukan dalam bentuk kemasan, mereka membuat sendiri dengan resep mereka sendiri. Aku sendiri heran mengapa mereka menggunakan cara tradisional, tetapi aku juga tidak dapat berbohong, tehnya benar-benar menghangatkan tenggorokan dan perut kita”
            “Woww!! Kau menjelaskannya ‘sangat’ teliti. Aku percaya jika tehnya enak”
            “Haha, itu harus, agar kau mau mencobanya”
            “Iya kak”
            “Tehnya dua gelas ya” ucap Henry terhadap pemilik warung
            “Tunggu 15 menit lagi” jawabnya
            “Lama sekali” bisikku terhadap Henry
            “Sabar saja”

Comments

  1. Cerita ini tentang apa? Belum nyampe ke inti cerita ya? O.o
    Tapi bagus. :D

    ReplyDelete
  2. tentang gaje XD
    emng blm slese, msih awal -__-
    mkasih :D

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

FF Narnia - Menunggu Cinta

Hidup dan Mimpi #2