Hidup dan Mimpi #2
*Flashback*
“Kau akan kaget dengan rasa
tehnya. Memang biasa, tapi rasanya berbeda. Tidak seperti teh-teh yang ada di
London”
“Apa yang membuatnya berbeda?”
“Karena kita sering meminum teh yang sudah didalam
kemasan, maka akan berbeda dengan yang ini. Pembuat teh disini membuatnya
sendiri dan meracik sendiri, kebun teh dibelakang rumahnya cukup besar. Gula
yang dibuatnya juga bukan dalam bentuk kemasan, mereka membuat sendiri dengan
resep mereka sendiri. Aku sendiri heran mengapa mereka menggunakan cara
tradisional, tetapi aku juga tidak dapat berbohong, tehnya benar-benar
menghangatkan tenggorokan dan perut kita”
“Woww!! Kau menjelaskannya ‘sangat’ teliti. Aku percaya
jika tehnya enak”
“Haha, itu harus, agar kau mau mencobanya”
“Iya kak”
“Tehnya dua gelas ya” ucap Henry terhadap pemilik warung
“Tunggu 15 menit lagi” jawabnya
“Lama sekali” bisikku terhadap Henry
“Sabar saja”
____________________________________________________
15
menit kemudian
“Selamat menikmati” kata sang pemilik warung sambil memberikan
2 gelas teh untuk kami
“Terima
kasih” jawabku dan Henry
‘slurp’
kami meminum teh kami. Tehnya memang enak dan nyaman di tenggorokan lalu
menjalari kebagian perut. Tidak salah Henry mengajakku minum disini. Dinginnya
Lake District, sangat seimbang bila meminum minuman hangat.
“Kau
benar, ini benar-benar enak. Ingin sekali aku tinggal disini” ucapku kepada
Henry
“Aku
tidak pernah salah” jawabnya menyombongkan diri
Henry
memang begitu, ketika dipuji, ia selalu menyombongkan dirinya. Tetapi itu tidak
masalah, karena dia adalah kakakku satu-satunya.
“Lihatlah,
tehmu habis!!” kata Henry
“Aku
tidak menyadarinya, sungguh!”
“Seharusnya
kau menikmatinya dengan pelan dan rasakan airnya menjalari ditubuhmu. Itu akan
membuatnya semakin nikmat, percaya saja kepadaku”
“Bisakah
aku memintanya segelas lagi?”
“Tidak
mungkin. Harga segelas teh ini mahal, kau ingin membuatku kehabisan uang
liburanku?”
“Pelit
sekali, lantas mengapa kau mentraktirku demi segelas teh ini?”
“Karena
aku ingin kau tahu bagaimana rasa teh yang alami”
“Memangnya
selama ini kita meminum yang palsu?”
“Bukan
begitu. Maksudku alami adalah tempat ini membuatnya langsung saat itu juga
dalam kata lain murni tanpa bahan pengawet atau campuran bahan-bahan lainnya”
“Jadi
begitu. Lain kali jika ada minuman atau makanan enak yang aku tidak tahu, ajak
aku lagi kak”
“Aku
tidak janji, haha”
“Hmmm”
“Jangan
seperti itu, kau terlihat sangat jelek”
“Jadi
maksudmu, selama ini aku cantik?”
“Tentu
saja, karena kau adikku. Lihat saja wajahku, tampan sekali bukan?”
“Beruntung
kau memiliki adik sepertiku”
“Mengapa
begitu?”
“Karena
jika bukan, aku akan mengatakan kau jelek”
“Kau
ada-ada saja. Sudah mulai larut, kita pulang sekarang?”
“Terserah
kau saja”
“Ayo
pulang, aku takut ibu khawatir”
“Siap
bos”
Jarak
antara rumah dan warung teh yang kami datangi tidak jauh, hanya 200 meter. Aku
memandang langit. Cuaca mendung membuat suasana semakin dingin.
“Dingin
sekali malam ini, kak”
“Iya,
sepertinya akan hujan”
“Semoga
saja tidak”
“Ya,
ku harap seperti itu”
Tidak
lama kemudian kami telah sampai di rumah. Ayah dan ibu sepertinya sudah tidur.
Aku dan Henry segera masuk ke kamar kami masing-masing. Dalam hitungan menit
akhirnya hujan datang dengan sangat deras. Aku bersyukur karena hujan tidak
turun saat aku dan Henry masih dalam perjalanan. Malam pertama ku di Lake
District tidak terlalu buruk walaupun hujan di malam. Namun hari ini sangat
menyenangkan.
Jam
sudah menunjukkan pukul 11:00 p.m, aku belum tidur tentu saja karena
insomniaku. Dari pada tidak melakukan hal apa-apa, aku berpikir untuk bermain
notebook. Setelah ku hidupkan, aku membuka file musik dan mencari album One
Direction. Boyband asal UK dan Irlandia ini sangat fenomenal, tentu saja karena
mereka tampan. Itu tidak menjadi alasan aku menyukai mereka. Selain tampan,
mereka memiliki suara yang nyaman untuk di dengar. Banyak yang mengatakan
mereka “Next Westlife”, ku pikir tidak. Zayn Malik salah satu personel mereka
beragama islam, itulah idolaku. Dan aku
sangat berharap suatu saat aku akan menikah dengannya.
Hari
mulai semakin larut, hujan telah berhenti, cacing-cacing di perutku sepertinya
ingin aku segera makan. Walau sedikit takut, aku memberanikan diri untuk pergi
ke dapur. Tidak ada makanan atau bahan memasak sekalipun. Terdengar suara
gemercik air di samping rumahku, sepertinya ada seseorang di dekat danau. Aku
mencoba keluar untuk memastikan bahwa tidak ada pencuri yang ingin masuk ke
rumahku. Melalui pintu dapur, terlihat sosok lelaki bertubuh jangkung memberi
makan ke ikan-ikan di danau.
‘Siapa dia?’ terlintas di otakku untuk
mengetahui orang itu. Larut seperti ini, ada orang memberi makanan kepada ikan.
Aku keluar rumah, dan mencoba mendekati lelaki itu dengan gemetaran tak
tertahankan.
“Hey!
Apa yang kau lakukan di danau selarut ini? Siapa kau?” tanyaku pelan kepadanya
Orang
itu hanya diam tanpa menjawab pertanyaanku. Aku melihat kakinya menyentuh
tanah. Kalau bukan hantu, siapa orang ini? Penjahat? Pencuri? .. Akupun mundur
dengan perlahan. Pada jarak kurang lebih 1,5 meter, ia mengatakan hal yang
tidak jelas di pendengaranku.
“Apa
yang kau katakan?” ucapku sedikit nyaring
“Mendekatlah”
jawabnya
“Kau
penjahat?”
“Bukan,
aku orang baik-baik. Percayalah kepadaku” Dengan cukup yakin, aku mendekatinya
“Jangan
takut” lelaki itupun membalikkan wajahnya terhadapku
Oh
God!! Tanpa berkata-kata, bingung, gugup, suhu tubuh menaik, keringat dingin.
Lelaki itu, orang yang selama ini ku idam-idamkan.
“Tenang
saja, aku bukan penjahat atau pencuri” katanya sambil tersenyum
“K-ka-kau
Zayn???”
“Kau
tahu aku?”
“Tentu”
“Ku
kira di daerah seperti ini tidak ada yang tahu siapa diriku”
“Aku
tinggal di London, aku berlibur disini dan baru tadi siang aku sampai disini”
“Jadi
begitu”
“Hm”
“Siapa
namamu?”
“Ainsley,
kau bisa memanggilku dengan Ansle saja”
“Nama
yang bagus. Dan kau pasti sudah tahu namaku, bukan?”
“Yup”
“Jadi,
apa yang kau lakukan ditengah malam seperti ini untuk mengintaiku?”
“Tidak,
aku tidak mengintaimu. Tadi aku kelaparan, aku pergi ke dapur. Tidak ada
makanan, aku pergi ke kamar. Saat ku coba melangkahkan kakiku, terdengar
gemercik air disini. Ku pikir itu adalah penjahat atau semacamnya, ternyata itu
dirimu”
Demi
Tuhan, disaat itu juga, tanganku sangat dingin. Bagaimana tidak? Zayn Malik
yang selama ini hanya dapat ku lihat secara tidak nyata menjadi nyata.
“Kau
sangat lucu, haha”
“Mengapa
kau tertawa? Mengapa kau memberi makan ikan di tengah malam seperti ini?”
“Haruskah
aku menjawabnya? Kau pasti tahu jawabannya. Well, makanannya sudah habis. Nice
to meet you Ainsley”
“Yaa,
nice to meet you too. Terima kasih” aku berjabat tangan dengannya
“Hm”
Zayn
pergi dengan cepat. Pertemuan singkat kami seakan menjadi bonus liburan yang
takkan pernah ku lupakan seumur hidupku. Senyumannya yang membuat luluh para
kaum hawa, ia berikan kepadaku. Ini benar-benar seperti mimpi.
###
Hari telah pagi. Benar, tadi malam memang seperti mimpi.
Aku tidak mungkin melupakan hal itu. Aku keluar kamar dan menghampiri Henry
yang masih di kamarnya.
“Kak,
tadi malam aku bertemu Zayn Malik di danau sebelah”
“Kau
pasti bermimpi”
“Tidak
kak, aku serius. Aku berjabat tangan dengannya, dan ia menanyakan namaku”
“Pikir
secara logika saja Ans, tidak mungkin ada penyanyi terkenal datang ke tempat
seperti ini. Ia juga pasti sibuk dengan jadwalnya yang padat”
“Aku
tidak mengada-ngada, tadi malam itu benar adanya”
“Aku
tidak yakin. Yasudahlah, lupakan saja. Sebaiknya kau cepat mandi, kita akan
pergi berkeliling”
“Tidak
masalah jika kau tidak mempercayaiku”
Aku
tidak tahu apa yang ada dipikiran Henry. Aku juga merasa aku yang sedang
bermimpi, namun aku benar-benar berjabat tangan dengan Zayn.
#
“Henry,
kau sudah siap?”
“Sudah
bu” jawabnya
“Bagaimana
dengan adikmu?”
“Sepertinya
ia masih di toilet”
“Suruh
ia cepat. Karena perjalanan kita akan lama, dan ibu tidak mau kita pulang
sampai senja”
“Baiklah
bu”
“Ansle!! Cepatlah sedikit!”
“Iya kak”
Aku segera keluar toilet dan langsung berlari ke kamar.
Memakai pakaian dengan terburu-buru dan mempersiapkan seluruh barang yang akan
ku bawa. Ayah sudah menyalakan mobilnya, hal itu semakin membuatku tidak
karuan. Setelah yakin semua siap, aku keluar kamar.
“Cepatlah Ans!!” teriak ayah dari luar
“Iya, yah” jawabku sambil mengunci pintu
Akhirnya aku masuk kedalam mobil dan mendengar semua
ocehan ayah, ibu dan Henry.
“Kau haruus belajar bergerak lebih cepat lagi, Ans. Suatu
saat kau bisa ketinggalan jika sedang bepergian” kata ayah
“Benar yang dikatakan ayah” lanjut Henry
“Iya” jawabku singkat “Memangnya kita mau kemana?”
tanyaku
“Pergi ke suatu tempat yang tidak pernah kau kunjungi”
jawab ibu
“Semua tempat disini belum pernah ku kunjungi, bukan?”
tanyaku dengan sedikit heran
“Tetapi ini berbeda” jawab ayah
“Ok. Ok.”
20
menit kemudian
Perjalanan kami tidak terlalu jauh, hanya 20 menit
menggunakan kendaraan sudah sampai ditempat ‘yang tidak pernah ku kunjungi’.
Terdapat didepannya tertulis ‘Gosforth Village’ Terlihat sama saja, apa yang
berbeda? Hanya pegunungan, rumah penduduk dan.. pekarangan yang sangat besar
berada dibawah.
“Kita sampai.” Ucap ayah
“Aku belum pernah kesini sebelumnya” jawab Henry
“Apa lagi aku” lanjutku
“Ayo kita kebawah” ajak ayah sambil menunjuk kearah
pekarangan domba
“Apa yang akan kita lakukan disini, yah?” Tanya Henry
“Kita akan menggembala domba dengan seharian penuh
disini” jawab ayah
Seharian ‘penuh’? Yang benar saja, aku mengira bahwa ayah
akan mengajak kami ke tempat yang menyenangkan. Ibu dan Henry sepertinya
menyutujui pilihan ayah. Aku tidak pernah berpikir jika aku akan kesini.
“Ansle, jangan hanya berdiam disana! Cepatlah turun!”
panggil ayah yang sudah berada jauh dibawah
Aku mendatangi mereka. Untung saja tempat ini bukan
daerah pegunungan yang curam. Kemiringannya hanya 60° dan menggunakan tangga
yang terbuat dari tanah. Sebenarnya tidak masalah jika ayah mengajak kesini,
sekedar untuk pengalaman baru mengapa tidak.
Kini aku sudah bersama ayah, ibu dan Henry. Ayah mengajak
kami masuk ke sebuah rumah yang berada di tengah-tengah pekarangan. Rumah itu
hanya terbuat dari kayu, sepertinya bukan permamen. Kami telah berada didepan
rumah. Ya, memang benar. Rumah ini hanya ditinggali pemiliknya ketika sedang
menggembala domba saja.
“Permisi” kata ayah sambil mengetok pintu
“Iya.. Josh! Marry! Apa yang kalian lakukan disini? Apa
kabar kalian? Dan ini anak-anak kalian? Oh, lihatlah mereka yang sudah dewasa”
jawab paman Shannon. Ternyata pekarangan ini miliknya..
“Shannon! Aku sedang berlibur bersama anak dan istriku.
Kami baik, bagaimana denganmu? Ya, mereka sudah dewasa, terakhir kita bertemu
saat mereka masih kecil sekali” jelas ayah
“Jadi begitu. Aku baik, lihat saja aku yang sehat ini,
haha. Sudah lama sekali kita tidak bertemu” jawab paman Shannon
“Hm.. Itu bagus. Ya, kau benar, sangat lama sekali”
lanjut ayah
“Yup. Jadi, apa yang ingin kau lakukan bersama keluargamu
disini, Josh?” Tanya paman Shannon
“Kami ingin menggembala domba-dombamu, Shan. Sekedar
membantu, sangat lama aku tidak berbicara kepada domba yang sangat lucu-lucu
itu”
Ku pikir ayah jatuh cinta kepada seekor domba
“Kalau begitu, masuk dulu. Ganti baju-baju kalian yang
sudah ku persiapkan” ajak paman Shannon
“Bukankah paman baru tahu bahwa kami baru datang?
Bagaimana bisa baju-baju itu sudah paman persiapkan?” tanyaku kepada paman
Shannon
“Paman memiliki banyak baju untuk menggembala untuk
tamu-tamu paman” jawabnya
“Oh, jadi begitu” gumamku singkat
“Ayo masuk!” ajak paman Shannon
Saat berada di dalam, rumah ini seperti bukan tempat yang
tidak berpenghuni. Ini seperti rumah yang ditinggali setiap harinya. Padahal
paman Shannon tinggal disini hanya untuk menggembala saja, setelah itu ia
pulang kerumah. Namun rumah ini sangatlah rapi dan bersih. Penataan ruangannya
sangat indah, dengan foto-foto keluarga paman Shannon bersama domba-domba
mereka. Itu baru diruang utama. Ketika kami berjalan ke ruang tengahnya,
terlihat perabotan menggembala dengan sepatu boots yang tersusun rapi dan
banyak. Bisa ku tebak, pekarangan ini banyak di kunjungi oleh para turis lokal
dan interlokal. Bukan hanya boots, tetapi baju-bajunya pun banyak namun
warnanya sama semua.
Aku
menjelajahi rumah kecil paman Shannon di setiap sudutnya. Di dapur, terlihat
lengkap seperti dapur yang dimiliki banyak orang. Rumah ini hanya memiliki satu
kamar, wajar saja bukan. Kamarnya juga tidak terlalu buruk, terdapat lemari
kecil dan kasur kecil. Tentu saja paman Shannon adalah orang yang sangat ulet
dalam pekerjaannya. Apakah pekerjaannya hanya menggembala domba?
Aku
menghampiri ayah yang telah selesai mengganti bajunya
“Kau
tidak mengganti bajumu, Ans?”
“Aku
akan mengganti baju setelah ayah menjawab pertanyaanku”
“Kau
ingin menanyakan hal apa?”
“Apakah
pekerjaan paman Shannon hanya menggembala domba saja, yah?”
“Tidak,
paman Shannon memiliki perusahaan di London. Ia akan ke London 2 kali dalam
seminggu”
“Memangnya
perusahaan apa yang paman Shannon miliki?”
“Pupuk
kandang. Perusahaannya tidak terlalu besar, namun kualitas pupuknya sangat
bagus”
“Oo,
begitu ya”
“Iya.
Nah, sekarang gantilah bajumu”
“Ok,
yah”
Akupun
mencari baju yang cocok ukurannya denganku. Setelah mendapatkannya, aku segera
mengambil boots lalu pergi keluar. Ayah, ibu, Henry dan paman Shannon telah
berada diluar menungguku.
“Ans,
cepatlah!!” seru ibu
“Iya,
bu” jawabku sambil berlari kearah mereka
“Jadi,
apa yang akan kita lakukan, paman?” tanya Henry
“Kau
harus memberi mereka makan terlebih dahulu” jawab paman Shannon
“Makanannya
didapat darimana?” Tanya Henry
“Rumput
disini banyak, kau bisa mengambilnya dimana saja asalkan dalam batas pekarangan
ini” jelas paman Shannon
“Baiklah,
aku akan segera mengurusnya. Ansle, kau mau ikut denganku?” ajak Henry
“Iya,
kak” jawabku
Aku
dan Henry mengumpulkan rumput-rumput yang ada di pekarangan. Rumput yang lebat
dan tinggi tidak akan habis dengan cepat. Di tambah lagi pekarangan ini sangat
luas, mustahil jika cepat habis. Henry menikmati pekerjaannya, jelas saja, di
London kami tidak pernah menggembala domba.
keren sist ceritanya... lanjutkannn!!!
ReplyDeletehehehe, msh bingung apa lnjutannya nih sist u,u
ReplyDelete