10 Sahabat Chapter 4

Merekapun pergi kekantin bersama . Banyak orang yang melihat mereka berdelapan dengan tatapan aneh . Ratih , Regi dan Rara pun bingung , canggung dan merasa ada yang aneh dengan mereka . Tetapi mereka tetap saja berjalan tanpa menghiraukan orang lain . 3 menit kemudian mereka telah berada di kantin dan duduk di meja yang cukup besar . Yang memesan makanan seperti biasa , Prida tentunya . Setelah makanan sudah di pesan , Prida kembali ke tempat duduk teman-temannya .
“Aku bingung . Mengapa orang di sekolah ini selalu melihat kita ? Dan yang ku bingungkan lagi adalah  , mengapa ketika kita jalan tadi , orang-orang yang bergelombolan seketika mundur teratur ?” tanya Ratih
“Aku juga merasa seperti itu .” diikuti dengan Regi dan Rara bersamaan
“Oh itu ? Kalian tidak perlu khawatir .” jawab Ellis
“Iya , kalian tidak perlu khawatir dengan hal yang seperti tadi . Dan hari kedepan sampai seterusnya , jika kalian melewati koridor , akan terjadi seperti tadi lagi .” lanjut Prida
“Benar , tadi itu mereka hanya bingung ada orang baru di antara kami . Tapi bisa ku pastikan hari selanjutnya tidak akan terjadi kebingungan di antara mereka lagi .” sambung Vhira
“Mereka tidak akan berani menganggu kalian bertiga .” jelas Chintia
“Jika pun itu terjadi , mereka pasti akan berpikir dua kali .” tambah Cynthia
“Kalian tenang saja , ok .” jawab Ellis dengan yakin
“Tapi kenapa ? Apa yang mereka inginkan ? Apa salah kami ? Aku tidak mengerti .” kata Ratih bingung
“Jadi begini .. emm , gimana ya menjelaskannya ? Kau saja sist Vhir .” timpal Prida sambil menggaruk-garuk kepalanya
“Bukannya kami menyombongkan diri kepada kalian , bukan juga kami pamer . Orang tua kami berlima adalah orang terpandang di London maupun di luar London . Mungkin saja murid disini berpikir kami pantas untuk di segani , padahal kami tidak berpikir untuk seperti itu . Kami dan mereka sama-sama manusia bukan ? Kami tidak ingin dijadikan sosok yang wajib di nomor satukan . Sebenarnya kami tidak ingin seperti ini , tetapi kau tahu bukan bagaimana berlebihannya murid-murid disini ? Jadi yah beginilah , kami menjalani hari-hari kami yang cukup suram .” jelas Vhira
“Begitu ya ? Pantas saja murid-murid bingung dengan kehadiran kami sebagai orang baru di antara kalian .” Ratih menganggukan kepala “Lalu , apa maksud kalian dengan hari-hari kalian yang suram ?” tanyanya
“Suram karena jika kita ngobrol bersama murid-murid lain , ekspresi mereka seperti takut . Dan kau bisa lihat kantin ini bukan ? Sepi seperti kuburan ketika kita datang , seakan kita adalah raja yang tidak boleh di ganggu oleh orang lain . Gilanya lagi , jika kita melewati koridor , kita seperti pejabat saja . Contohnya seperti tadi .” jelas Chintia
“Kami benar-benar tidak menginginkannya , kau tahu . Kamipun sama seperti mereka , yang ingin di sapa oleh banyak orang , yang bisa ikut berkumpul bersama murid lain .” keluh Prida
“Kami bisa mengerti apa yang kalian rasakan . Tapi apakah kalian tidak mencoba terus-menerus ?” tanya Regi
“Kami sudah beberapa kali melakukan hal yang dapat mengundang mereka agar berteman dengan kami , tetapi itupun gagal . Sekarang terpaksa saja kami seperti ini .” nada Ellis mulai rendah
“Kami turut prihatin dengan keadaan kalian saat ini .” ucap Rara
“Terima kasih .” jawab kelima sahabat itu
“Oh iya , ku dengar kalian bertujuh bukan ? Yang dua lagi kemana ?” tanya Ratih
“Ya , benar . Sahabat kami yang dua lagi mengikuti program pertukaran pelajar . Reny di Australia , dan Marta di Amerika . Mereka 3  bulan belajar di sana . Kurang lebih seminggu lagi mereka akan kembali kesini.” jawab Cynthia
Regi terlihat kagum , lalu berbicara “Wow , itu keren sekali . Aku jadi tidak sabar untuk bertemu mereka .”
“Ya , akupun begitu .” sambung Ratih dan Rara bersama
“Kami pun rindu dengan mereka , semoga saja mereka secepatnya kembali .” wajah Vhira penuh harap
“Apakah kalian sering berkomunikasi bersama mereka ?” tanya Rara
“Setiap hari . Kami sering berbicara melalui webcam , atau menelpon bersama .” jawab Ellis
“Itu bagus . Tidak ada kerenggangan di antara kalian . Aku jadi iri .” ucap Ratih
“Iri ? Iri dalam hal apa ?” tanya Chintia bingung
“Iri karena kalian tidak saling melupakan walaupun di lain negara .” jawab Ratih
“Melupakan sahabat bukanlah tipe seperti kami .” jawab Ellis dengan tersenyum
“Jika itu terjadi padaku , aku akan mengutuk diri ku sendiri karena telah melupakan sahabat .” Prida menarik napas “Aku pribadi tidak ingin hal itu terjadi , aku tidak ingin melupakan sahabat yang sangat berarti untuk hidup ku .”
“Kau benar sist Prida . Aku padamu . hehe .” lanjut Ellis
“Ehm , bagaimana jika kita menghubungi mereka sekarang ? Kita perkenalkan mereka dengan ketiga teman baru kita ini .” usul Vhira
“Benar juga , kenapa tidak ? Hurry !” jawab Cynthia
“Baiklah . Tetapi kita menelpon saja ya , tidak nyaman bila dilihat oleh murid lain kita ribut .”ucap Vhira
“Okelah kalo begitu .” celetuk Prida menggunakan bahasa yang sama sekali tidak di mengerti oleh teman-temannya sambil mengacungkan jempolnya
“Jangan membuat kami bingung dengan apa yang kau katakan sist Prid .” terdengar suara Chintia memberitahu Prida
“Haha , maaf . Aku sering spontan untuk berbahasa Indonesia .” jawab Prida
“Kau keturunan Indonesia ?” tanya Regi
“Yup . Ada apa ?” tanya Prida kembali
“Tidak , tidak apa-apa . Orang tuamu Indo ?” tanya Regi lagi
“Ayah dari ibuku alias kakekku berkewarganegaraan Indonesia , namun karena Ibu dari ibuku atau nenekku berasal dari sini , jadi kakekku menetap disini .” jelas Prida
“Lalu mengapa kau tidak tinggal di Indonesia ?” tanya Rara
“Aku juga tidak tahu , lagipula ayah dan ibuku bekerja disini . Tetapi bila Hari Raya Idul Fitri , aku ke Indonesia .” jawab Prida
“Oh , begitu .” Regi dan Rara bersamaan
“Hey , sampai kapan kalian membahas tentang hal itu ? Nanti keburu bel , dan kita tidak jadi menelpon Reny dan Marta” ucap Vhira
“Ok , ok . Telpon sekarang .” jawab Prida

Comments

Popular posts from this blog

FF Narnia - Menunggu Cinta

Hidup dan Mimpi #2