Pangeran Kecilku


            “Pergi kau ! Disini bukan tempat menampung pengemis sepertimu !” bentak lelaki tua pemilik warung makan kepada anak kecil itu
            “Saya belum makan , Pak . Saya hanya meminta sesendok nasi untuk mengisi perut yang lapar ini .” ucap sang anak
            “Kau kira semua ini gratis ? Uang saja tidak punya , seenaknya kau meminta !” bentak lelaki itu lagi
            Melihat kejadian itu , akupun tak kuasa melihatnya . Ku hampiri anak laki-laki yang sedang menangis itu dengan jemari kecilnya yang memegang perut yang kelaparan . Kedua kaki yang bergemetar seakan tidak dapat menahan tubuhnya untuk berdiri . Pakaian lusuh dengan sobekan-sobekan yang digunakannya , menutupi sedikit bagian tubuhnya yang diselimuti oleh kedinginan .
            “Mari ikut kakak , dik . Kakak memiliki banyak makanan dirumah .” kataku kepada anak laki-laki itu
            “Benarkah ? Tetapi aku hanya meminta sesendok nasi saja kak , tidak lebih .” jawab anak itu
            “Kakak tidak tega melihatmu kelaparan berhari-hari dengan menempuh perjalanan yang tidak tahu sampai dimana kau berhenti .” kataku kepadanya
            “Kakak baru saja mengenalku , dan bagaimana bisa kakak percaya begitu saja kepadaku ? Apakah kakak tidak takut bila aku pergi membawa harta benda kakak ?” tanyanya
            “Kakak tahu kau anak yang baik , dan kakak akan sepenuhnya percaya padamu bahwa kau tidak akan mungkin melakukan hal seperti itu .” jawabku , “Sekarang , mari ikut kakak pulang kerumah .” tawarku padanya
            “Kakak baik sekali . Terima kasih kak ..” ucapnya
            “Sama-sama dik .” jawabku
            Dalam perjalanan , kami berjalan menyusuri gang-gang kecil menuju rumahku . Anak itu berjalan tanpa menggunakan alas kaki . Kamipun berhenti diwarung kecil yang berada tidak jauh dari perjalanan kami . Aku berniat untuk membelikannya sepasang sendal jepit untuk alas kakinya agar tidak merusak kedua telapak kaki anak itu .
            “Sekali lagi terima kasih kak . Suatu saat , jika aku sudah meraih cita-citaku , aku akan membalas semua yang telah kakak beri kepadaku .” kata anak kecil itu kepadaku
            Aku hanya tersenyum menatap kedua mata hitamnya . Tatapan anak kecil yang sudah merasakan sakitnya kehidupan . Senyuman yang membawa kehangatan jiwa yang akan membuat semua orang jatuh dalam kedamaian .
            Tak lama kemudian , kami sampai dihalaman rumah kecil yang terbuat dari kayu beratap seng . Dengan ukuran rumah yang tidak terlalu besar , memiliki satu kamar tidur , ruang tamu sempit , ruang tv yang berukuran 3m x 3m , dapur yang kecil dan sebuah kamar mandi , cukup untuk mahasiswi sepertiku .
            “Kita sudah sampai dik .” kataku padanya “Mari masuk .” lanjutku
            “Apakah tidak apa-apa kak ? Aku takut orang tua kakak akan marah .” jawabnya lugu
            “Tidak apa-apa , tidak ada yang melarang . Orang tua kakak tinggal diluar kota , kakak tinggal sendiri disini .” jelasku
            “Tinggal sendiri ? Apakah kakak tidak takut ? Mengapa kakak tidak bersama orang tua kakak ?” tanyanya lagi
            “Takut ? Untuk apa ? Tuhan selalu disamping kita .” kataku sambil tersenyum “Kakak ingin melanjutkan kuliah kakak disini , karena dikampung halaman kakak tidak memiliki fasilitas universitas yang sesuai dengan apa yang kakak inginkan .” lanjutku
            “Jika Tuhan selalu disamping kita , mengapa Tuhan tidak memberikan kehidupan yang tidak layak untukku ?” tanyanya lagi “Oh , begitu ya .” lanjutnya
            “Jangan seperti itu .. Tuhan itu selalu memberikan yang terbaik untuk makhluk-Nya . Semakin sulit cobaan yang kita lalui , semakin juga Ia sayang kepada kita.” jelasku
            “Jadi , aku sekarang sedang diberi cobaan ya kak ?” tanyanya dengan polos
            “Iya sayang . Sudahlah , tidak perlu dibahas lagi . Kau lapar bukan ? Mari ikut kakak kedapur .”
            Ku buka tudung yang berada diatas meja makanku . Sebakul nasi , 3 lauk , 1 mangkuk sayur asam yang telah tersedia disana . Semua makanan itu sudah kusiapkan tadi pagi untuk makan malamku , namun menurutku lebih baik menahan lapar sehari dari pada melihat anak kecil yang berada disampingku ini menahan lapar berhari-hari . Tanpa pikir panjang , ku ambil piring dan mengambilkan semua makanan yang berada diatas meja makan tadi untuk ku berikan kepada anak kecil itu  .
            “Ini makananmu .” kataku sambil memberikan makanan kepadanya
            “Terima kasih kak , aku sangat berterima kasih sekali kepada kakak .”
            “Sama-sama .”
            Aku bahagia melihatnya lahap dengan memakan semua makanan yang ada dipiringnya . Sesekali cacing-cacing diperutku bernyanyi . Namun aku berusaha menahannya agar tidak membuat anak itu terganggu .
            “Kakak tidak makan ?”
            “Tidak , kakak sudah makan ketika pulang tadi .”
            “Baiklah . Emm , apakah aku boleh mengambil ikannya satu lagi ?”
            “Boleh . Ambil saja . Jika kau sangat lapar , kau boleh menghabiskan semuanya .”
            “Benarkah kak ? Kakak baik sekali .” ucapnya
            Aku tersenyum melihat raut wajah bahagia darinya . Ada satu hal yang ku lupakan , menanyakan namanya .
            “Oh , iya .. siapa namamu ? Dari tadi kita tidak membahas ini bukan ?” tanyaku
            “Benar juga  . Namaku Evan , kalau kakak ?”
            “Nama kakak Wanda . Berapa umurmu ?”
            “Umurku ? Aku tidak tahu . Tetapi seingatku sekitar 9 tahunan”
            “Begitu ya . Lalu dimana orang tuamu ?”
            “Ayahku telah lama meninggal sewaktu ibuku masih mengandungku . Saat umurku masih 3 bulan , ibuku menikah lagi dengan lelaki lain . Lelaki yang menurutku sangat jahat . Ibuku memiliki satu orang anak dari ayah tiriku itu . Menurut mereka , anak yang baru saja dilahirkan itu adalah berkah Tuhan yang diberikan kepada mereka dan menganggapku hanya pembawa kesialan dikehidupan mereka . Ketika adik tiriku menginjak umur 1 tahun dan aku berumur 6 tahun , ayah tiriku mulai tidak karuan pikirannya . Ia sering memukuliku hingga banyak memar ditubuhku . Ibuku hanya bisa diam oleh tingkah laku ayah tiriku itu . Akhirnya aku memutuskan untuk kabur dari rumah .” jelas Evan
            “Lalu bagaimana dengan ibumu ?”
            “Setelah lebih dari tiga minggu aku kabur , akhirnya akupun pulang kerumah .. Terlihat bendera hijau bertuliskan arab didepan rumahku . Akhirnya aku berlari masuk melihat keadaan rumah . Dengan dipenuhi deraian air mata , aku menghampiri jasad yang telah tertidur tak bernyawa diatas tempat tidur .. Tangis yang tidak dapat terbendung lagi , ku keluarkan semuanya dengan ucapan ‘Maaf’ ku kepada ibuku . Rasa menyesal menghantuiku seakan selalu mengejarku kemanapun aku pergi . Disaat ibuku sangat membutuhkanku , aku tidak ada disana . Dengan sepucuk bunga mawar menghiasi surat kecil yang diberikan oleh ayah tiriku kepadaku , tertulis disana bahwa surat itu ditujukan kepadaku . Surat yang dibuat oleh ayah dan ibuku semasa aku dalam kandungan dan selembar foto kusam yang tergambar bahwa itu adalah wajah ayah dan ibu kandungku . Linangan air mataku menjatuhi surat yang sedang kubaca .. Setelah selesai pemakaman ibuku , aku pergi meninggalkan semuanya . Pergi tanpa tujuan sampai sekarang..”
            Aku tak dapat berbicara lagi saat ia menangis menceritakan kehidupannya . Ku raih tubuh kecilnya dan ku peluk ia dengan penuh kasih sayang seorang kakak kepada adik laki-lakinya . Aku juga terharu mendengar ceritanya , tanpa sadar air mataku juga bergelinang dipipiku . Segera ku hapus air mataku itu cepat-cepat agar Evan tidak melihatnya . Lalu ku lepas pelukanku kepadanya dan berbicara..
            “Maukah kau tinggal bersama kakak disini ?” ucapku kepadanya
            “Tidak kak , itu tidak perlu . Aku bisa tinggal dipinggiran jalan tanpa harus menyusahkan kehidupan orang lain .” jawabnya
            “Disini kau tidak akan kedinginan seperti biasanya . Kau akan merasa hangat jika tinggal disini . Dan kau tidak akan kelaparan lagi , kakak jamin itu .”
            “Aku tidak ingin menjadi benalu dikehidupan kakak .”
            “Siapa bilang ? Kau akan menjadi kumbang dipohon bunga kakak . Yang selalu memberikan kemekaran dikehidupan kakak .”
            “Ti..”
            “Kau tidak boleh menolak permintaan orang lain .” potongku pada omongannya
            “Baiklah jika itu mau kakak .”
**
            5 bulan lebih sudah aku tinggal bersama Evan . Hari-hariku selalu diwarnai oleh tawa candanya . Bahagia yang telah terpancar dari wajahnya membuatku tidak merasa kesepian lagi . Suatu ketika ia merasa sakit diperutnya ..
            “Kak , perutku sakit..” kata Evan mengagetkanku
            “Apakah rasa sakitnya seperti biasa yang kau rasakan ?” tanyaku cemas
            “Tidak kak . Ini sangat berbeda dari biasanya . Dan rasa sakitnya baru ku rasakan selama ini .” jawab Evan
            Aku kebingungan memikirkan bagaimana cara untuk membawanya pergi ke puskesmas . Tetangga sebelah rumahku sedang pergi kekampung halamannya . Ku lihat cuaca diluar yang sangat tidak bersahabat . Derasnya hujan dan dingin yang menusuk seluruh tubuh seakan membuat Evan semakin menggigil . Bibir yang pucat mulai terlihat darinya , membuatku semakin bingung dan sangat khawatir . Akhirnya aku berpikir untuk nekat membawanya kepuskesmas terdekat .
            Aku menggendong Evan dibawah derasnya hujan . Berlari-lari dengan secepat mungkin . Kamipun sampai dipuskesmas . Ku datangi dokter disana untuk segera memeriksa keadaan Evan . Dokter memberitahu bahwa penyakit yang diderita Evan tidak dapat diketahui oleh dokter dipuskesmas . Dokter puskesmas menyarankan Evan dibawa kerumah sakit . Aku menyetujui saran dokter dan meminta puskesmas itu dapat mengantar kami kerumah sakit menggunakan mobil . Mereka mengiyakan permintaanku dan kami menuju rumah sakit .
            “Kak , aku takut .” kata Evan dengan wajah yang sangat pucat
            “Kau tidak perlu takut sayang . Ada kakak disini .” jawabku
            “Bagaimana bila Tuhan menjemputku ?” omongan Evan mulai mengarah kehal yang tidak wajar
            “Jangan berbicara seperti itu . Apakah kau mau melihat kakak menangis berhari-hari karena tidak ada dirimu ?” jelasku
            “Tidak kak , aku tidak mungkin membiarkan hal itu terjadi . Tetapi ku rasa Tuhan berkehendak lain .”
            “Sudah-sudah , jangan berbicara seperti itu .”
            Didalam hati serasa sesak . Ketakutan menyelimuti seluruh pikiranku . Dan akhirnya kami sampai dirumah sakit . Perawat langsung menjemput Evan untuk dibawa ke UGD .
            “Bertahanlah sayang ..” bisikku ditelinganya sambil menangis
            Evan dimasukkan kedalam ruang UGD , aku hanya bisa menunggu diluar dengan penuh kekhawatiran dan ketakutan . Menunggu didepan pintu sambil berdoa agar Tuhan tidak menjemput Evan dengan cepat .
            Satu jam berlalu tanpa kabar dari Evan . Membuatku semakin bergemetar dan tidak karuan . Dokterpun keluar dari ruang UGD .
            “Bagaimana keadaan adik saya dok ?” tanyaku kepada dokter
            “Adik anda menderita kanker paru-paru yang telah dideritanya lebih dari 5 tahun .” jawab dokter
            Hatiku terasa nyeri mendengar kabar buruk itu . Tanpa basa-basi aku masuk kedalam ruang UGD . Melihat Evan terbaring lemah dan.... tidak lagi bernyawa.... membuat seluruh tubuhku mematung menatap wajah pucatnya . Air mataku berjatuhan tanpa henti melihat Evan seperti seperti itu . Malaikat kecilku yang selama ini menemaniku kini telah tiada ...
**
            Pemakaman Evan hanya dihadiri oleh beberapa orang saja . Keluarganya juga tidak hadir dipemakaman itu . Tidak lama kemudian orang-orang yang tadinya menghadiri pemakaman akhirnya pergi meninggalkan ku sendiri .
            “Evan , terima kasih telah mengisi hari-hari kakak . Kakak sangat bahagia sudah mengenalmu . Mungkin Tuhan telah mentakdirkanmu untuk bersama kakak dalam waktu singkat . Sekarang kau tidak akan sendiri lagi .. Ayah dan ibumu telah menunggumu disurga .. Kau tidak akan kelaparan lagi seperti hari-harimu sebelumnya . Kau tidak akan menahan rasa sakit lagi . Kau telah nyaman dialam sana . Kau akan selalu bahagia ada disana . Kau akan selalu menjadi malaikat kecil kakak yang tidak akan pernah tergantikan oleh apapun .. Semoga kau senang dikehidupan barumu disana .. Terima kasih Tuhan , kau telah mengenalkanku kepada Evan”
            Aku meninggalkan makam Evan dengan menaruh setangkai bunga mawar yang ku taruh di batu nisannya . Dalam perjalananku , tanpa sengaja aku melihat sosok Evan sedang bermain ditaman dengan kedua orang tuanya .. Aku yakin , itu hanya halusinasiku saja ,..

Comments

Popular posts from this blog

FF Narnia - Menunggu Cinta

Hidup dan Mimpi #2